Digunakan sebagai instrumen audit SDM yang komprehensif. Tujuan utamanya adalah untuk mendeteksi kerugian non-fisik (waktu, kinerja, dan integritas) yang disebabkan oleh manajemen staf yang tidak teratur.
1. Pembenahan Jadwal & Absensi Pegawai #
Berdasarkan data Desember 2025, tingkat Alpa mencapai 68.0% dan On Time hanya 4.0%. Ini adalah kebocoran waktu yang sangat fatal.
| Masalah Terdeteksi | Tindakan Korektif |
|---|---|
| Pegawai Belum Di-set Jadwal Shift | Segera klik tombol “Atur Jadwal”. Tanpa jadwal shift, sistem tidak dapat menghitung keterlambatan dan performa secara akurat. |
| Tingkat Alpa & Keterlambatan Tinggi | Lakukan pembinaan khusus kepada pegawai dengan tingkat Alpa tinggi. Gunakan data ini sebagai dasar pemberian sanksi atau evaluasi kontrak. |
2. Optimalisasi KPI (Key Performance Indicator) #
Rata-rata pencapaian KPI tim adalah 0.00% pada dashboard utama, yang berarti target tidak terukur atau tidak diinput dengan benar.
Strategi Target Kerja (Data Januari 2026):
- Lengkapi Data Target: Pegawai seperti Irenne belum memiliki target KPI. Segera klik “Atur KPI”.
- Audit Alasan Tidak Tercapai: Pegawai Budi (60% KPI) gagal mencapai target Stok Opname karena “Banyak barang kiriman supplier” dan target omset karena “Tidak sepenuhnya pegang kasir”.Solusi: Sesuaikan pembagian tugas atau jadwal kiriman agar tidak berbenturan dengan waktu SO.
- Reward Pegawai Terbaik: Berikan apresiasi kepada Firman (100% KPI) untuk memotivasi staf lain meningkatkan performa harian (Setor Uang, SO, Target Omset).
3. Pemantauan Psikologis & Mood Pegawai #
VI mendeteksi adanya rasa Takut (20%) dan Kecewa (20%) dalam tim. Kondisi mental yang buruk adalah indikator awal pegawai akan “bocor” (mengundurkan diri atau bekerja tidak jujur).
Masalah Pribadi Terdeteksi:
“Saya susah tidur malam, sehingga ketika masuk kerja pagi kurang fresh.”
“Merasa performa menurun karena ada pegawai baru yang lebih kompeten.”
Tindak Lanjut VI:
Gunakan fitur “Minta Nasihat VI” untuk mendapatkan panduan cara menangani keluhan spesifik pegawai tanpa menghakimi. Manajemen yang empati akan menurunkan tingkat kebocoran SDM.



