Bahaya Stok Mati: Modal Besar yang Diam di Rak

Bahaya Stok Mati: Modal Besar yang Diam di Rak

Last Updated on January 28, 2026

Rak apotek terlihat penuh sering kali memberi rasa aman. Banyak pemilik apotek merasa tenang ketika stok obat tersedia lengkap, dari obat fast moving sampai produk yang jarang ditanya pasien. Sekilas, kondisi ini tampak ideal.

Tapi di balik rak yang penuh itu, ada satu masalah yang sering tidak disadari: stok mati. Obat-obatan yang diam terlalu lama di rak sebenarnya bukan aset, melainkan modal besar yang berhenti bergerak.

Dan masalahnya, stok mati jarang terasa menyakitkan di awal. Dampaknya baru terasa perlahan, tapi dalam jangka panjang bisa sangat merugikan.

Stok Mati Tidak Pernah Terlihat Sebagai Masalah Mendesak

Berbeda dengan kehabisan obat yang langsung memicu keluhan pasien, stok mati cenderung sunyi. Tidak ada alarm, tidak ada komplain. Obat hanya diam di rak, hari demi hari.

Karena tidak “ribut”, stok mati sering dibiarkan. Pemilik apotek berpikir, “Nanti juga laku.” Padahal, setiap hari obat itu tidak terjual, ada biaya yang ikut berjalan: modal tertahan, ruang penyimpanan terpakai, dan risiko kedaluwarsa semakin dekat.

Masalahnya bukan hanya pada obatnya, tapi pada uang yang tidak bisa diputar.

Modal Besar yang Tidak Bisa Digunakan untuk Hal Lain

Setiap obat yang dibeli adalah modal. Ketika modal itu diam di rak, apotek kehilangan kesempatan untuk menggunakannya pada hal yang lebih produktif.

Uang yang seharusnya bisa dipakai untuk menambah stok fast moving, memperbaiki display, atau bahkan sekadar menjaga arus kas, justru terkunci dalam bentuk stok yang tidak bergerak.

Dalam jangka pendek, ini mungkin tidak terasa. Tapi dalam jangka panjang, apotek bisa kehabisan napas tanpa sadar, meskipun secara fisik rak terlihat penuh.

Risiko Kedaluwarsa yang Datang Diam-Diam

Stok mati hampir selalu punya satu akhir yang sama: mendekati kedaluwarsa. Ketika tanggal ED semakin dekat, pilihan pemilik apotek makin terbatas.

Diskon besar sering kali tidak cukup menarik pembeli. Retur tidak selalu bisa dilakukan. Dan akhirnya, obat harus dimusnahkan.

Di titik ini, kerugian menjadi nyata. Modal yang dulu dikeluarkan berubah menjadi beban biaya pemusnahan. Yang menyakitkan, proses ini sering terjadi tanpa pernah benar-benar disadari sejak awal.

Dalam Permenkes Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, pengelolaan sediaan farmasi harus dilakukan secara efektif dan efisien, termasuk dalam pengendalian stok dan pencegahan obat kedaluwarsa. Artinya, stok mati bukan sekadar masalah bisnis, tapi juga masalah kepatuhan pengelolaan.

Stok Mati Sering Berasal dari Keputusan yang Terlihat Sepele

Banyak stok mati berawal dari keputusan kecil. Misalnya, membeli obat karena sedang promo, ikut-ikutan tren, atau menambah variasi produk tanpa analisis kebutuhan pasien.

Keputusan ini sering terasa logis saat diambil. Tapi tanpa data penjualan yang jelas, obat tersebut berisiko hanya menjadi pajangan rak.

Apotek yang tidak rutin mengevaluasi pergerakan stok akan sulit membedakan mana stok sehat dan mana yang mulai mati.

Stok Mati Membuat Laporan Keuangan Terlihat “Palsu”

Secara pembukuan, stok masih tercatat sebagai aset. Tapi secara realita, nilainya sudah menurun, bahkan bisa menjadi nol saat kedaluwarsa.

Inilah yang membuat laporan keuangan apotek terlihat “baik-baik saja” di atas kertas, tapi tidak terasa di kas. Pemilik merasa omzet jalan, tapi uang tidak pernah benar-benar longgar.

Tanpa pemisahan antara stok aktif dan stok mati, pemilik apotek sulit membaca kondisi keuangan sebenarnya.

Masalahnya Bukan Sekadar Obat Tidak Laku

Stok mati bukan hanya soal obat yang jarang terjual. Ini soal manajemen pengadaan, perencanaan, dan kontrol.

Apotek yang sehat bukan yang punya stok paling lengkap, tapi yang punya stok sesuai kebutuhan pasar. Lengkap tanpa perhitungan justru membuka pintu kerugian.

Tanpa sistem yang membantu membaca pola penjualan, stok mati akan terus muncul dalam bentuk berbeda.

Mengendalikan Stok Mati Butuh Data, Bukan Perasaan

Banyak pemilik apotek mengandalkan intuisi untuk menentukan pembelian. Padahal, perasaan sering tertipu oleh kondisi sesaat.

Data penjualan, perputaran stok, dan usia persediaan jauh lebih jujur. Dengan data, pemilik bisa tahu obat mana yang cepat bergerak, mana yang melambat, dan mana yang sudah seharusnya dihentikan pembeliannya.

Di sinilah peran sistem menjadi penting. Bukan untuk menggantikan keputusan manusia, tapi untuk memberi dasar yang kuat dalam mengambil keputusan.

Dengan bantuan software apotek, stok bisa dipantau berdasarkan pergerakan nyata. Obat yang jarang terjual bisa terdeteksi lebih awal, sehingga strategi bisa disiapkan sebelum terlambat.

Jika Anda ingin modal tidak lagi diam di rak dan mulai benar-benar bekerja untuk bisnis, saatnya mengelola stok dengan cara yang lebih terukur. Anda bisa mulai dengan menggunakan software apotek yang membantu memantau pergerakan stok, usia obat, dan potensi stok mati secara lebih sistematis.

Penutup

Rak penuh tidak selalu berarti apotek sehat. Di balik stok yang diam, bisa tersimpan modal besar yang tidak pernah kembali.

Stok mati adalah musuh senyap. Tidak berisik, tidak mencolok, tapi perlahan menggerogoti keuangan apotek. Dengan pengelolaan yang tepat, masalah ini bisa dicegah sebelum menjadi kerugian nyata.

Apotek yang kuat bukan yang paling banyak stoknya, tapi yang paling cerdas mengelola stoknya.

Referensi

  • Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek
  • Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

//
Kami ada untuk membantu Anda, silakan tanya apa saja!
👋 Hi, ada yang ingin ditanyakan tentang aplikasi kami?