Metode Menentukan Harga Jual Obat Untuk Menghindari Kerugian di Apotek

Setiap pelaku bisnis tentu menginginkan keuntungan dari usaha yang dijalankan. Begitu juga untuk pemilik sarana apotek. Keuntungan maupun kerugian ini bisa dilihat dari laporan keuangan setiap bulan. Kini, dengan adanya software apotek seperti VMedis, Anda bisa mendapatkan laporan keuangan setiap bulan sehingga tahu apakah mengalami keuntungan ataupun kerugian.

Apa saja kemudahan lain yang ditawarkan oleh VMedis dan bagaimana cara menentukan harga jual obat agar apotek selalu ramai pembeli? Simak penjelasan selengkapnya!

Software apotek VMedis untuk memudahkan pengelolaan keuangan dan stok obat

Menghitung keuntungan maupun kerugian mungkin agak sedikit merumitkan bagi pemiliki apotek karena harus mengetahui pergerakan obat setiap harinya. Pergerakan obat ini bisa diketahui dari kartu stok dimana di akhir bulan, kartu ini digunakan untuk membuat laporan keuangan.

Anda tak perlu pusing memikirkan bagaimana bisa mengawasi setiap pergerakan obat melalui kartu stok. Dengan VMedis semuanya bisa dilakukan secara otomatis. VMedis memungkinkan untuk mencetak kartu stok setiap ada pembelian dan penjualan obat. Dengan begitu, Anda bisa mengontrol dan mengetahui stok obat yang dimiliki.

Di akhir bulan, tak perlu bingung juga untuk menghitung laba atau rugi karena VMedis akan melakukannya untuk Anda. VMedis akan mencetak jurnal keuangan otomatis setiap ada transaksi. Kemudian semuanya akan dibuatkan laporan raba atau rugi. Sungguh membantu,bukan?

Metode menentukan harga jual obat

Harga jual obat biasa disebut dengan harga jual apotek. Cara utama yang bisa Anda terapkan dalam penjualan obat agar tidak merugi adalah dengan mencari harga jual apotek atau yang umum disebut HJA. Harga jual obat untuk apotek dihitung dengan mempertimbangkan harga netto, PPN 10%, serta marjin keuntungan yang diinginkan. Atau bisa juga dengan cara lain yaitu menghitung harga nettp dengan marjin keuntungan langsung.

Caranya seperti berikut:

HJA = harga netto x PPN 10% x marjin keuntungan

HJA = harga netto x marjin keuntungan

HJA adalah harga jual obat yang akan ditawarkan dari apotek kepada konsumen. Ketika menjual obat kepada konsumen, Anda bisa menggunakan HJA ini. Sedangkan harga netto adalah harga awal atau bisa disebut dengan modal yang dikeluarkan oleh apotek untuk membeli obat dari produsen atau distributor resmi.

Marjin keuntungan adalah besar keuntungan yang diinginkan. Hal ini bisa ditentukan oleh Anda sendiri sebagai pemilik apotek. Untuk kisaran besar marjin adalah 25% atau 30%.Kemudian ada PPN 10% yang memang menjadi pajak wajib proses transaksi dari produsen hingga ke konsumen.

Perhitungan tersebut bisa diterapkan untuk obat yang dibeli sudah dalam kemasan dan hanya tinggal menjualnya pada konsumen. Tapi, untuk obat yang harus diracik terlebih dahulu oleh apoteker,HJA-nya akan ditambah dengan jasa peracikan. Untuk menentukan harga jasa apoteker, besarannya tergantung tingkat kerumitan peracikan obat dan apoteker.

HJA = harga netto x marjin keuntungan + jasa per resep

Meski sebagai pemilik usaha apotek Anda tidak ingin mengalami kerugian, namun mematok harga jual obat melebihi marjin keuntungan 1.25 sampai 1.3 juga tidak dibenarkan. Ini karena apotek tidak hanya berfokus pada bisnis tetapi juga pelayanan pengobatan kepada pasien. Terlebih adanya aturan tentang harga eceran tertinggi yang diberlakukan di seluruh Indonesia. Jadi, jangan hanya terlena dengan meraih keuntungan besar tanpa memikirkan bagaimana layanan kesehatan untuk pasien.

 

Share